jump to navigation

Pengurangan Resiko Bencana Dimulai dari Sekolah February 18, 2007

Posted by Juniawan Priyono in Bencana.
trackback

Ketika terjadi bencana alam, anak-anaklah yang paling rentan terkena dampaknya. Terutama sekali jika pada saat kejadian, anak-anak sedang belajar di sekolah. Gempabumi di Pakistan pada bulan Oktober 2005 menyebabkan lebih dari 16 ribu anak-anak meninggal akibat runtuhnya gedung sekolah. Longsorlahan di Leyte, Philipina menewaskan lebih dari 200 anak sekolah. Dari dua contoh kejadian tadi, seharusnya kita berupaya melindungi anak-anak kita sebelum bencana terjadi.

Berdasarkan hasil Konferensi Sedunia tentang Pengurangan Resiko Bencana (World Conference on Disaster Reduction) yang diselenggarakan pada tanggal 18-22 Januari 2005 di Kobe, Hyogo, Jepang; dan dalam rangka mengadopsi Kerangka Kerja Aksi 2005-2015 dengan tema ‘Membangun Ketahanan Bangsa dan Komunitas Terhadap Bencana’ memberikan suatu kesempatan untuk menggalakkan suatu pendekatan yang strategis dan sistematis dalam meredam kerentanan dan resiko terhadap bahaya. Konferensi tersebut menekankan perlunya mengidentifikasi cara-cara untuk membangun ketahanan bangsa dan komunitas terhadap bencana.

Bencana dapat diredam secara berarti jika masyarakat mempunyai informasi yang cukup dan didorong pada budaya pencegahan dan ketahanan terhadap bencana, yang pada akhirnya memerlukan pencarian, pengumpulan, dan penyebaran pengetahuan dan informasi yang relevan tentang bahaya, kerentanan, dan kapasitas. Oleh karena itu diperlukan usaha-usaha antara lain: (1) menggalakkan dimasukkannya pengetahuan tentang pengurangan resiko bencana sebagai bagian yang relevan dalam kurikulum pendidikan di semua tingkat dan menggunakan jalur formal dan informal lainnya untuk menjangkau anak-anak muda dan anak-anak dengan informasi; menggalakkan integrasi pengurangan risiko bencana sebagai suatu elemen instrinsik dalam dekade 2005–2015 untuk Pendidikan bagi Pembangunan Berkelanjutan (United Nations Decade of Education for Sustainable Development); (2) menggalakkan pelaksanaan penjajagan resiko tingkat lokal dan program kesiapsiagaan terhadap bencana di sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan lanjutan; (3) menggalakkan pelaksanaan program dan aktivitas di sekolah-sekolah untuk pembelajaran tentang bagaimana meminimalisir efek bahaya; (4) mengembangkan program pelatihan dan pembelajaran tentang pengurangan resiko bencana dengan sasaran sektor-sektor tertentu, misalnya: para perancang pembangunan, manajer tanggap darurat, pejabat pemerintah tingkat lokal, dan sebagainya; (5) menggalakkan inisiatif pelatihan berbasis masyarakat dengan mempertimbangkan peran tenaga sukarelawan sebagaimana mestinya untuk meningkatkan kapasitas lokal dalam melakukan mitigasi dan menghadapi bencana; (6) memastikan kesetaran akses kesempatan memperoleh pelatihan dan pendidikan bagi perempuan dan konstituen yang rentan; dan (7) menggalakkan pelatihan tentang sensitivitas gender dan budaya sebagai bagian tak terpisahkan dari pendidikan dan pelatihan tentang pengurangan resiko bencana.

Masyarakat di seluruh dunia berpandangan bahwa anak-anak menghadirkan harapan masa depan. Sekolah dipercaya memiliki pengaruh langsung terhadap generasi muda, yaitu dalam menanamkan nilai-nilai budaya dan menyampaikan pengetahuan tradisional dan konvensional kepada generasi muda. Untuk melindungi anak-anak dari ancaman bencana alam diperlukan dua prioritas berbeda namun tidak bisa dipisahkan aksinya yaitu pendidikan tentang resiko bencana dan keselamatan di sekolah.

Untuk alasan itulah dilakukan ‘Kampanye Pendidikan tentang Resiko Bencana dan Keselamatan di Sekolah’ yang dikoordinir oleh UN/ISDR (United Nations/International Strategy for Disaster Reduction) hingga penghujung tahun 2007 dengan didasari berbagai pertimbangan. Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan selama kejadian bencana, terutama yang sedang bersekolah pada saat berlangsungnya kejadian. Pada saat bencana, gedung sekolah hancur, mengurangi usia hidup murid sekolah dan guru yang sangat berharga dan macetnya kesempatan memperoleh pendidikan sebagai dampak bencana. Pembangunan kembali sekolah memerlukan waktu yang tidak sebentar dan pastilah sangat mahal.

Pendidikan kebencanaan di sekolah dasar dan menegah membantu anak-anak memainkan peranan penting dalam penyelamatan hidup dan perlindungan anggota masyarakat pada saat kejadian bencana. Menyelenggarakan pendidikan tentang resiko bencana ke dalam kurikulum sekolah sangat membantu dalam membangun kesadaran akan isu tersebut di lingkungan masyarakat. Sebagai tambahan terhadap peran penting mereka di dalam pendidikan formal, sekolah juga harus mampu melindungi anak-anak dari suatu kejadian bencana alam. Investasi dalam memperkuat struktur gedung sekolah sebelum suatu bencana terjadi, akan mengurangi biaya/anggaran jangka panjang, melindungi generasi muda penerus bangsa, dan memastikan kelangsungan kegiatan belajar-mengajar setelah kejadian bencana.

Pendidikan tentang resiko bencana dan keselamatan di sekolah merupakan dua prioritas utama untuk dilakukan, sebagai aksi Kerangka Kerja Aksi Hyogo yang telah diadopsi oleh 168 negara. Pengintegrasian pendidikan tentang resiko bencana ke dalam kurikulum pendidikan secara nasional dan penyediaan fasilitas sekolah yang aman dan menyelamatkan juga merupakan dua prioritas yang memberikan kontribusi terhadap kemajuan suatu negara menuju Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goal).

Sasaran utama kampanye ini adalah mempromosikan integrasi pendidikan tentang resiko bencana dalam kurikulum sekolah di negara-negara yang rawan bencana alam dan mempromosikan konstruksi yang aman dan penyesuaian gedung sekolah yang mampu menahan bahaya. Untuk mencapai sasaran tersebut diperlukan langkah-langkah yang tepat dengan cara mempromosikan praktek terbaik yang menunjukkan bagaimana bermanfaatnya pendidikan tentang resiko bencana dan keselamatan di sekolah bagi masyarakat yang rentan. Berupaya melibatkan para pelaku pada berbagai tingkatan untuk menyampaikan pesan kampanye tersebut. Mendorong kepekaan anak-anak sekolah, orangtua, para guru, para pengambil kebijakan di tingkat lokal hingga internasional, dan organisasi kemasyarakatan untuk mempengaruhi kebijakan tentang pendidikan tentang resiko bencana dan keselamatan di sekolah.

Kampanye ditujukan kepada murid sekolah dasar dan menengah, para guru, pembuat kebijakan pendidikan, orangtua, insinyur dan ahli bangunan. Selain itu juga ditujukan kepada lembaga pemerintah yang bertanggung-jawab atas isu manajemen bencana, mendiknas, para pemimpin politik di tingkat nasional, pembuat keputusan di masyarakat, dan otoritas lokal. Pesan yang bisa disampaikan antara lain: (1) pendidikan tentang resiko bencana menguatkan anak-anak dan membantu membangun kesadaran yang lebih besar isu tersebut di dalam masyarakat; (2) fasilitas bangunan sekolah yang bisa menyelamatkan hidup dan melindungi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa dari suatu kejadian bencana alam; dan (3) pendidikan tentang resiko bencana dan fasilitas keselamatan di sekolah akan membantu negara-negara menuju ke arah pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium.

Hasil yang diharapkan adalah pemerintah pusat dan daerah menanamkan investasinya dalam fasilitas bangunan sekolah tahan bencana dan mengarahkan kurikulum pendidikan tentang resiko bencana secara nasional; (2) meningkatkan kesadaran sebagai dampak positif adanya pendidikan tentang resiko bencana dan keselamatan di sekolah; dan (3) peningkatan aksi dan penggunaan praktek-praktek yang baik untuk mengerahkan koalisi dan kemitraan, membangun kapasitas sumberdaya yang ada untuk mengadakan pelatihan pendidikan tentang resiko bencana dan keselamatan di sekolah.

Ada pengalaman menarik tentang peran anak-anak dalam mengurangi korban tsunami Desember 2004. Seorang gadis kecil dari Inggris bernama Tilly yang mendapatkan pelajaran tanda-tanda tsunami dari guru geografinya telah menyelamatkan banyak orang yang sedang berlibur di pantai barat Thailand. Seorang anak laki-laki kecil bernama Anto yang tinggal di Pulau Simeulue mendapatkan pelajaran dari kakeknya tentang apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempabumi di laut. Bersama seluruh penghuni pulau itu, mereka berlari menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi. Kedua kisah tersebut diangkat ke dalam film pendek sebagai materi kampanye UN/ISDR.

Sebagai penutup, marilah kita semua lebih memperhatikan upaya mengurangi resiko bencana yang dimulai dari sekolah. Seluruh komponen, dalam hal ini anak-anak sekolah, para guru, para pemimpin masyarakat, orangtua, maupun individu yang tertarik dengan pendidikan tentang resiko bencana dan keselamatan di sekolah, lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, institusi lokal/regional/nasional/ internasional, sektor swasta dan publik untuk dapat berpartisipasi secara aktif. Keterlibatan media juga diperlukan untuk mendorong sebuah budaya ketahanan terhadap bencana dan keterlibatan komunitas yang kuat dalam rangka kampanye pendidikan publik secara terus-menerus dan dalam konsultasi publik di segenap lapisan masyarakat. Bencana?! Jika Siap Kita Selamat.

About these ads

Comments»

1. tatang badru tamam - March 8, 2007

Salaam pak, saya Tatang dari majalah STABILITAS, majalah Manajemen Risiko. Saya bermaksud menjadikan bapak salah satu nara sumber dimana saya bisa kontak

2. juniawan - March 13, 2007

silakan kontak saya di 081328814802 atau email ke: thole@sutikno.org

3. ariful - April 17, 2007

kini telah terbentuk sebuah konsorsium pendidikan bencana
info lebih lengkap hubungi :

Lya Anggraini
MPBI Disaster Education Officer
Mobile: +62-818734356
Email: lya@mpbi.org
Heavy files: lya.anggraini@gmail.com

atau

Titi Moektijasih
UN OCHA
Mobile: (62-811) 987 614
Fax: (62-21) 319-00003
E-mail: moektijasih@un.org

4. habibdila - November 5, 2007

Saya terkesan dengan Artikel yang di Pak Juniawan, saya juga sangat berharap Pak Juniawan bisa menerapkan sistem dari artikel tersebut, hal ini bisa memacu pemerintah agar dapat membatu mengurangi resiko bencana dari pendidikan.

saya bekerja secara individu dan sangat membutuhkan bantuan dan bahan-bahan serta arikel dalam mengurangi resiko bencana,

jujur saja karena saya bekerja dengan dana pribadi, melalui rubrik ini saya sangat bantuan dan relawan yang bersedia bersama dalam melaksanakan pelatihan dan penyuluhan terhadapa pencegahan bencana berbasis masyarakat melalui pendidikan

atas infonya dan bantuan dari Pak Juniawan saya ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya.

5. fatwa fadillah - February 13, 2008

Saya bekerja di sebuah lembaga yang saat ini juga fokus menangani program DRR berbasis sekolah. Saya ingin banyak belajar. Kalau punya referensi, bahan, modul tentang PRB berbasis sekolah mohon disharing ke saya juga ya.

Thank’s

6. OK. Syahputra Harianda - April 5, 2008

Salam Pak, Saya Oka.

Saat ini saya Bekerja di LSM Pusaka Indonesia yang bergerak di Bidang Child Protection. Kebetulan sekarang kita sedang mengembangkan Program Child Led Disaster Risk Reduction (CL-DRR) di Wilayah Lhokseumawe dan Aceh Utara Prop. NAD. Program ini dukungan dari Save The Children.

Sekilas ttg program : target sasaran dalam kegiatan ini anak-anak di sekolah. anak-anak di dilatih utk menjadi fasilitator CL-DRR, kemudian menyiapkan mefia kampanye ke masyarakat. setelah itu anak-anak yg menjadi fasilitator tersebut mencoba mengajak masyarakat melakukan kegiatan-kegiatan dalam CL-DRR (Pemetaan Risiko, Sumberdaya, dan menyiapkan Mitigasi). sehingga masyarakat dapat melakukan mitigasi di komunitas. selain itu, utk kegiatan advokasi, kita trus mencoba merangkul Dinas Pendidikan agar Cl-DRR bisa menjadi muatan lokal di sekolah. Kita juga mendorong terbentuknya Gugus Tugas CL-DRR di Kab/Kota wilayah kerja. Kegiatan ini mengusung Partisipasi Anak sesuai Konvensi Hak Anak dan UUPA No. 23 thn 2002.

Maksud dari email saya ini, saya ingin sharing dan diskusi dengan bapak. kalao bapak memiliki bahan materi atau bahan pembelajaran ttg program ini, saya mohon kpd bapak utk membantu saya.

Terimakasih,
OK. Syahputra Harianda
Koord. Prog. CL-DRR

7. Lany Verayanti - June 27, 2008

Di Aceh kita juga sedang bersama-sama mendorong masuknya materi kebencanaan baik bencana alam, non alam maupun sosial ke dalam KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Komitment dari pihak Dinas Pendidikan Provinsi sangat membantu kami dalam mendorong proses ini (Diknas NAD akan menjadi leading sectornya).

8. M MITRA LUBIS - July 2, 2008

siang mas,
saya mitra salah satu staf Pusaka Indonesia yang sekarang bertugas dipulau Simeulue propinsi NAD untuk program pengurangan resiko bencana Di sekolah , sekarang yang menjadi pilot projek kami ada 8 sekolah, yang tersebar di berbagai desa dan lokasi berbeda, saya pengen sekali banyak belajar dari mas dan informasi buku2 yang saya bisa baca untuk reprensi program ini

makasih mas

MITRA LUBIS

9. unwanmasum - October 19, 2009

salam Mas Juniawan….
saya aktif di sebuah NGO lokal di Kebumen. saat ini sedang menggagas untuk mengadakan pendidikan Pengurangan Resiko Bencana; Membangun budaya aman dari bencana. Saat ini sedang merumuskan kurikulum pendidikannya. mungkin anda mempunyai referensi / contoh kurikulum Pendidikan Pengurangan Resiko Bencana. terima kasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: