jump to navigation

Manajemen Bencana yang Bermuatan Jender Februari 18, 2007

Posted by juniawan priyono in Jender.
trackback

Kehidupan manusia telah ‘dihadiahi’ bencana alam sejak permulaan waktu. Banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, letusan gunungapi, gempabumi, tsunami, longsorlahan, badai tropis, serangan hama/penyakit tanaman, dan endemik penyakit; secara konsisten mengingatkan bagaimana rentannya kita.

Gambaran penderitaan kaum perempuan dan anak-anak selama masa bencana sangat populer di media massa. Perempuan mengalami akibat -secara tidak seimbang- kejadian bencana alam, dimana pada umumnya sebagai akibat status jender mereka di dalam masyarakat. Apa yang media tidak tunjukkan adalah bagaimanapun juga perempuan merupakan bagian penting dalam upaya tanggap darurat dan mitigasi bencana. Apakah sudah mewakili peran jender mereka secara tradisional atau malahan sudah melampauinya.

Peningkatan terbaru di dalam perhatian terhadap akibat bencana alam, banyak memunculkan isu yang beda perspektif. Beberapa penulis seperti: Enarson, Shrader, Delaney, Byrne, dan Baden; sudah membawa muatan jender dalam menganalisa tanggapan dan mitigasi bencana, dimana beberapa diantaranya menemukan hasil yang sangat menarik.

Mengapa perempuan lebih rentan? Elaine Enarson (2000) dalam tulisannya yang bejudul Gender and Natural Disasters menyatakan: “… jender membentuk dunia sosial di dalamnya, dimana berbagai peristiwa alam terjadi.” Perempuan ‘dibuat’ menjadi lebih rentan terhadap bencana melalui peran sosial yang mereka bangun. Perempuan memiliki lebih sedikit akses ke sumberdaya, misalnya: jaringan sosial dan pengaruh, transportasi, informasi, keterampilan (termasuk didalamnya melek huruf), kontrol sumberdaya alam dan ekonomi, mobilitas individu, jaminan tempat tinggal dan pekerjaan, bebas dari kekerasan, dan memegang kendali atas pengambilan keputusan. Padahal itu semua penting dalam kesiapsiagaan bencana, mitigasi, dan rehabilitasi. Perempuan juga menjadi korban pengelompokan jender terkait pekerjaan. Mereka terwakili dalam industri pertanian, wirausaha, dan sektor ekonomi informal; dengan upah kerja dibawah UMR, keamanan kerja yang terbatas, tidak mendapatkan fasilitas pelayanan kesehatan dan organisasi untuk menyuarakan aspirasinya. Sektor pertanian dan informal pada umumnya yang paling terkena dampak peristiwa bencana alam. Dengan begitu perempuan lebih dari mewakili satu di antara penduduk yang tidak memiliki pekerjaan setelah terjadi bencana.

Perempuan ‘dianggap’ bertanggung jawab terhadap tugas-tugas domestik seperti mengurus anak, orangtua yang berusia lanjut, dan anggota keluarga yang memiliki ketidaksempurnaan fisik/mental. Mereka tidak memiliki kebebasan berpindah tempat untuk mencari pekerjaan setelah mengalami bencana. Laki-laki sering berpindah tempat, meninggalkan rumah tangga yang harus diambil alih tanggungjawabnya oleh perempuan dengan angka statistik yang terus meningkat. Kegagalan untuk mengenali kenyataan ini dimana perempuan mempunyai beban ganda sebagai pekerja produktif dan melanjutkan keturunan berarti bahwa jangkauan penglihatan perempuan dalam masyarakat masih rendah. Perhatian kepada pemenuhan kebutuhan mereka tidaklah cukup bahkan sangat menyedihkan.

Rumah atau tempat tinggal seringkali hancur akibat bencana alam, banyak keluarga yang terpaksa mengungsi ke tempat perlindungan sementara. Keterbatasan fasilitas untuk kehidupan sehari-hari, misalnya aktifitas memasak berarti bahwa beban domestik perempuan bertambah pada saat yang bersamaan dengan beban ekonominya, memfungsikan sedikit kebebasan dan mobilitas yang dimilikinya untuk mencari alternatif sumber pendapatan keluarga. Ketika sumberdaya ekonomi perempuan berkurang, maka posisi tawar mereka di dalam rumahtangga juga terpengaruh secara berlawanan.

Sifat bencana itu sendiri dapat meningkatkan kerentanan perempuan. Tak terkecuali adanya gejala peningkatan perempuan sebagai kepala rumahtangga dan kenyataan bahwa mayoritas penghuni tempat perlindungan sementara adalah kaum perempuan. Beberapa kajian juga menunjukkan adanya suatu peningkatan kekerasan dalam rumahtangga dan kekerasan/pelecehan seksual setelah kejadian bencana alam. Yang tak kalah pentingnya yaitu kesehatan kaum perempuan, khususnya kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual, yang sedari awal harus dikenali sebagai komponen kunci dalam upaya pemberian bantuan/pertolongan setelah bencana. Bagaimanapun juga perhatian kepada mereka tidaklah cukup dan kesehatan perempuan mengalami penderitaan yang tidak sebanding dengan hasilnya.

Perempuan menyikapi bencana

Selagi kita melihat perempuan sesungguhnya terkena bencana alam, ini hanyalah separuh gambaran. Bencana alam juga memberikan kesempatan unik kepada perempuan untuk menghadapi tantangan dan mengubah status jender mereka di dalam masyarakat. Perempuan sudah membuktikan bahwa keberadaan dirinya sangat dibutuhkan ketika tiba saatnya untuk memberikan tanggapan atas peristiwa bencana. Pada waktu badai Mitch tahun 1998, perempuan di Guatemala dan Honduras sudah terlihat membangun rumah, menggali sumur dan parit, menyelamatkan persediaan air, dan membangun tempat perlindungan. Meski seringkali harus melawan keinginan laki-laki, perempuan juga rela dan ternyata mampu mengambil peran aktif dalam apa yang secara kebiasaan dianggap sebagai tugas laki-laki. Ini dapat memberikan pengaruh dalam mengubah konsepsi masyarakat terhadap kemampuan perempuan.

Sebagai reaksi atas peningkatan kekerasan yang sarat jender di Nikaragua setelah amukan badai Mitch, sebuah LSM lokal mengkoordinasi suatu kampanye informasi yang menggunakan berbagai macam media untuk menyampaikan satu pesan sederhana  “Kekerasan terhadap perempuan adalah satu bencana dimana laki-laki dapat mencegahnya.” Kampanye tersebut terbukti sangat efektif dalam mengubah sikap laki-laki menuju tindak kekerasan terhadap perempuan.

Setelah peristiwa gempabumi tahun 1985 di kota Meksiko, perempuan Maquiladoras mengorganisir diri mereka ke dalam ‘Serikat Pekerja Garmen 19 September’ yang keberadaannya diakui oleh pemerintah Meksiko dan terbukti menjadi perangkat efektif untuk mempengaruhi pemulihan kesempatan kerja bagi perempuan.

Setelah peristiwa badai Joan, perempuan di Mulukutú, Nikaragua menyusun rencana kesiapsiagaan bencana bagi seluruh anggota keluarganya masing-masing. Hasilnya bisa dilihat bahwa Mulukutú memiliki persiapan yang lebih baik dalam menghadapi badai Mitch dan pemulihannya lebih cepat dibandingkan dengan masyarakat di wilayah lain yang sama-sama terpengaruh.

Perempuan ternyata paling efektif dalam menggerakkan massa dalam masa tanggap darurat. Mereka membentuk kelompok dan jaringan laksana para aktor sosial yang bekerja untuk memenuhi tekanan kebutuhan masyarakat. Pengorganisasian masyarakat semacam ini ternyata diperlukan dalam kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Sebagai hasil upaya tanggap bencana yang mereka lakukan, perempuan juga sedang dalam proses mengembangkan keterampilan baru yaitu pengelolaan sumberdaya alam dan pertanian dalam lingkungan yang sesuai, kemudian mereka mentransfernya ke dalam lapangan kerja.

Melihat bencana alam dari perspektif jender

Dengan cepat setelah terjadi bencana, “kekejaman yang mendesak” bisa berlaku dan perhatian jender dilewatkan atau dilupakan karena dianggap tidak penting. Kesempatan yang unik untuk mengubah peran tradisional jender yang berharga dalam situasi bencana, akan sia-sia jika perempuan tidak berusaha mengambil keuntungan dari situasi tersebut, atau jika pengambil keputusan mengabaikan hal tersebut. Organisasi yang dibentuk kaum perempuan di tingkat masyarakat dan nasional sangatlah penting jika ukuran pemulihan adalah tanggapan terhadap kebutuhan perempuan dan yang berhubungan dengannya.

Pertama, pandangan sempit bahwa sebagai konsekuensi terjadinya bencana menuntun ke satu fokus kondisi fisik semata, kondisi sosial diabaikan, perhatian terhadap jender dipinggirkan. Perempuan akan terus mengalami ketidakseimbangan pengaruh yang ditimbulkan oleh bencana alam, kecuali jika para pekerja sosial kebencanaan dan pejabat pemerintah mengakui adanya status kerentanan mereka dan usaha memberikan bantuan yang sesuai untuk bereaksi terhadap hal ini. Kedua, kebanyakan upaya pemberian bantuan/pertolongan dimaksudkan untuk keseluruhan penduduk yang terkena bencana. Ketika mereka bersandar pada struktur distribusi sumberdaya yang mencerminkan struktur masyarakat patriarki, perempuan terpinggirkan dalam akses ke sumber bantuan/pertolongan. Ketiga, kekurangselarasan antara ukuran tanggap bencana dan rencana pembangunan jangka panjang berarti bahwa kesiapsiagaan bencana dikorbankan di hadapan usaha tanggap bencana. Kaum perempuan di Amerika sudah menyadari bahwa cara terbaik untuk mengurangi dampak negatif bencana adalah dengan persiapan untuk menanggulanginya. Perempuan memiliki peran advokasi yang kuat dalam mengukur kesiapsiagaan di tingkat masyarakat, sebab mereka memahami bencana apa yang mengancam kehidupan mereka sehari-hari. Keempat, advokasi sudah menekankan bahwa apa yang diperlukan untuk membawa suatu perspektif jender kepada studi kebencanaan adalah riset dan analisa data yang dipisahkan jenis kelamin, proyek percobaan selama tahap rekonstruksi, suatu dialogue terbuka di dalam masyarakat dan antara masyarakat dan pemerintah nasional dan membangun kapasitas perempuan sebelum, selama dan setelah kejadian bencana. Kelima, pada akhirnya ketidakhadiran kapasitas kelembagaan di dalam analisa jender tercermin dalam upaya pertolongan/pemberian bantuan, yang tidak memasukkan perspektif jender di dalam kaidah-kaidah dan prosedurnya. Sekali lagi, ini berarti bahwa kebutuhan tertentu perempuan, perhatian dan potensi mereka untuk menyumbangkan kontribusi dilewatkan begitu saja selama tahapan kesiapsiagaan, tanggapan, dan rekonstruksi. Ini juga sesuai dalam menyoroti pentingnya kebutuhan pengorganisasian, suatu pendekatan jender terhadap kajian bencana alam dan yang diakibatkan olehnya. Keenam, dibutuhkan suatu proses pengembangan efektif yang mencakup keduanya, baik kebutuhan dan kontribusi potensial perempuan seperti halnya laki-laki. Kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana yang berbasis masyarakat dan rencana tanggapan yang melibatkan perempuan secara fisik, psikis, sosial, dan ekonomi ke dalam hitungan/perkiraan akan sangat membantu dalam mengurangi kerentanan perempuan terhadap bencana secara keseluruhan. Suatu rencana yang berjalan bahkan berlanjut akan menandai kemampuan perempuan dan termasuk di dalamnya upaya memberi bantuan/pertolongan akan membantu mengubah kepercayaan jender tentang perempuan. Suatu pendekatan bermuatan jender terhadap studi dan analisis bencana alam sangat penting dalam rangka memenuhi tujuan ini.

Komentar»

No comments yet — be the first.