jump to navigation

Peta Seismotektonik Oktober 2, 2005

Posted by juniawan priyono in Iptek.
add a comment

Peta Seismotektonik adalah suatu peta yang menggambarkan hubungan struktur geologi/tektonik dengan kegempaan di suatu daerah yang juga memperlihatkan pengaruh-pengaruh bencana gempa bumi seperti pergeseran tanah (ground faulting), goncangan tanah (ground shaking) beserta bencana ikutannya seperti gerakan tanah (land slides) dan pelulukan (liquefaction), serta bencana tsunami, yang mencerminkan tingkat kerusakan.

Peta Seismotektonik menyajikan tiga jenis peta, yaitu: Peta Sebaran Batuan, Peta Neotektonik dan Kegempaan, dan Peta Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi. Peta Sebaran Batuan mencerminkan sebaran batuan tertua sampai termuda (pra Tersier, Tersier, Kuarter, dan Holosen atau Resen). Peta Neotektonik dan Kegempaan mencerminkan hubungan antara neotektonik dan kejadian gempa. Deformasi dimulai dari Plio-Plestosen sampai Resen, serta menggambarkan sebaran gempa bumi. Peta Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi menggambarkan sebaran kepadatan penduduk, sebaran kota dan desa, jaringan jalan, prasarana umum penting lainnya dan kontur ketinggian. Peta ini juga menggambarkan kerawanan bencana seperti kemungkinan-kemungkinan pergeseran tanah, goncangan tanah, gerakan tanah, retakan tanah, pelulukan tanah, dan kontur tingkat kerusakan dari skala Mercalli (MMI).

Peta Seismotektonik merupakan peta geologi bertema yang bertujuan untuk menyajikan data tekntonik, kegempaan dan bencana ikutannya yang dapat digunakan untuk keperluan geologi teknik, pengembangan wilayah, penataan ruang, pembangunan kembali suatu daerah akibat terlanda bencana gempa bumi dan lain-lainnya. Peta ini dibuat pada skala 1 : 250.000 dan atau skala yang lebih besar.

Peta Seismotektonik Indonesia menggunakan data dasar peta rupa bumi. Data dan informasi yang disajikan haruslah selengkap mungkin, yang berguna untuk tujuan terapan dan keilmuan. Tujuan terapan yaitu dapat digunakan sebagai landasan petunjuk awal pembuatan peta fisik dasar dalam perencanaan tata ruang daerah rawan bencana gempa bumi. Tujuan keilmuan yaitu data dan informasinya dapat dipakai sebagai titik tolak pembuatan hipotesis dan sintesis, seperti: pergeseran suatu patahan, lebarnya zona hancuran yang dapat dianalisis perioda ulangnya dari kejadian dan besaran yang akan terjadi pada waktu tertentu serta dapat menghitung pergeseran rata-rata (sliprate) dari suatu patahan, terutama dalam ilmu teknik gempa bumi.

Metode Penyusunan

Peta Seismotektonik disusun berdasarkan analisis data hasil pemantauan, pengamatan, dan penelitian di lapangan, serta kompilasi sejarah kegempaan yang kemudian disajikan dalam bentuk gambar melalui proses kartografi, atau disesuaikan dengan kemajuan IPTEK.

  • Pengumpulan dan Penyiapan Data

Pemetaan Seismotektonik dilaksanakan melalui beberapa tahapan kerja, seperti: studi pustaka, penyiapan peta-peta dasar geologi, data geografi dan kependudukan, serta analisis kegempaan. Pelaksanaan lapangan dilakukan dengan pemantauan keaktifan patahan, pendataan daerah-daerah rawan goncangan gempa, penelitian aktifitas tektonik akhir/resen, serta pengamatan makroseismik pada saat gempa terjadi. Penyiapan naskah dilakukan untuk penelaahan peta-peta sebaran batuan, peta neotektonik dan kegempaan, dan peta kawasan rawan bencana gempa bumi berwarna dapat dilengkapi dengan penampang kegempaan (apabila memungkinkan) dan keterangan lainnya.

  • Penelaahan Data

Penelaahan naskah dan Peta Seismotektonik dilakukan oleh ahli geologi senior/ahli seismotektonik/peneliti senior yang mempunyai wawasan luas serta ditunjuk oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Penelaahan hendaknya dilakukan lebih dari satu kali tergantung kerumitan ketektonikannya.

(Sumber: SNI 13-5013-1998)