Deteksi Tsunami dengan Deep-ocean Assessment and Reporting of Tsunami (DART) Oktober 18, 2004
Posted by juniawan priyono in Iptek.trackback
Sistem penaksiran dan pelaporan tsunami di laut dalam (DART) merupakan bagian dari Program Mitigasi Bencana Tsunami Amerika Serikat. Sasarannya adalah mengurangi korban jiwa dan harta benda masyarakat pesisir, serta mengeliminasi kesalahan tanda bahaya (alarm) dan kerugian ekonomi yang tinggi akibat evakuasi yang tidak perlu.
Sistem DART terdiri dari sistem pencatat tekanan di bawah permukaan laut yang mampu mendeteksi tsunami lebih kecil dari 1 cm dan pelampung permukaan yang ditambatkan sebagai sistem komunikasi realtime. Telemetri akustik digunakan untuk mengirimkan data dari BPR di dasar laut ke pelampung di permukaan. Data tersebut kemudian dirileykan melalui satelit GOES yang terhubung dengan stasiun pengamatan yang memodulasi sinyal tersebut untuk penyebaran dengan segera ke Pusat Peringatan Tsunami-NOAA dan PMEL. Stasiun DART diletakkan pada wilayah dengan sejarah dimana tsunami menimbulkan kerusakan untuk memastikan deteksi dini dan untuk perolehan data pada saat kritis guna pendugaan secara realtime.
Tinjauan Sistem
Sistem pelampung tsunami yang bekerja secara realtime terdiri dari dua bagian, yaitu pencatat tekanan dasar (Bottom Pressure Recorder atau BPR) dan pelampung permukaan. Diantara keduanya terhubung secara elektronik. BPR memantau tekanan air dengan ketepatan mendekati 1 mm dengan rata-rata pencatatan setiap 15 detik. Data dikirim ke pelampung permukaan melalui modem akustik. Kemudian dipancarkan ke satelit GOES sebagai sistem pengumpul data. Pada kondisi normal (tidak ada tsunami), BPR mengirimkan data satu jam sekali yang terdiri dari empat nilai pengukuran selang 15 menitan. Data dikirim satu per satu selama 15 detik. BPR dapat membuat tiga kali trial untuk mendapatkan kepastian bahwa data sudah diterima oleh pelampung permukaan. Kemudian data diformat kembali dan dikirim melalui saluran satelit GOES dan ditampilkan di WAVEWATCHER untuk melihat gelombang pasang di laut lepas. Data ini memberikan petunjuk setiap jam akan keadaan dan kondisi di sekitar sistem DART. Jika data tidak dapat ditangkap dari dasar, pelampung permukaan memanfaatkan GPS untuk mendapatkan informasi posisi pelampung sebagai pesan otomatis.
Sebuah algoritma yang berlaku di dalam BPR menghasilkan nilai ketinggian air dan kemudian membandingkan seluruh sampel baru dengan nilai prediksi. Penjelasan lengkap algoritma ini bisa didapatkan di PMEL-NOAA. Jika dua nilai ketinggian air selang 15 detikan melebihi nilai prediksi, maka sistem akan mengarah ke Mode Tanggapan Tsunami. Data akan ditransmisikan melalui saluran random (132) selama minimal 3 jam, disajikan dalam frekuensi tinggi dengan interval pendek 100% pengulangan data untuk redundansi satu jam pertama.
Setiap pesan mode tanggapan tsunami sudah termasuk identitas (ID) yang menunjukkan tipe data dan saat perekaman setelah T=0. Saat waktu transmisi otomatis per jam tercapai selama mode tanggapan tsunami, BPR akan mengirim data satu menitan, yang terdiri dari rerata keempat nilai 15 detikan selama dua jam (meliputi 120 nilai rekaman) yang terdahulu. Jika laut masih bergolak setelah 3 jam dari mode tanggapan tsunami, transmisi otomatis akan terus berlanjut. Sistem akan kembali ke mode normal setelah 3 jam dari kondisi dimana ketinggian air tak terusik terjadi.


Komentar»
No comments yet — be the first.