Jogja Tidak Nyaman Lagi Oktober 18, 2004
Posted by juniawan priyono in Lingkungan.add a comment
Benarkah Yogya tidak nyaman lagi untuk tinggal? Merujuk pada beberapa peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, tidak salah jika wong Jogja mulai membenarkan statemen ini. Berita pencurian kendaraan bermotor dan pencopetan membuat was-was dan harus selalu berhati-hati. Maraknya kasus narkoba membuat orangtua semakin khawatir akan masa depan anak-anaknya. Tindak kekerasan dan premanisme semakin merebak. Kondisi lalu lintas yang semrawut dan macet membuat tidak nyaman berkendara. Belakangan ini, suhu udara yang panas (23–35oC) dan kelembaban tinggi (50–87%) membuat badan gerah, malah tidak sedikit yang menjadi sakit. Kemana slogan Yogyakarta Berhati Nyaman yang seringkali kita baca di pintu gerbang, tugu, pagar tembok, dan papan reklame itu?
Pada dasarnya, perasaan nyaman dapat dirasakan oleh seseorang secara psikologis, fisiologis, dan sosiologis. Kenyamanan psikologis adalah perasaan nyaman dengan penekanan secara subyektif, personal, dan pribadi. Kenyaman-an fisiologis berkaitan dengan lingkungan alam sekitarnya, misalnya kondisi termal. Kenyamanan sosiologis berkaitan dengan suasana hubungan dengan anggota keluarga, teman, dan masyarakat. Tulisan ini hanya membahas kenyamanan dari sudut pandang fisiologis.
Yogyakarta berasal dari kata Ngayogyakarta yang berarti kota yang indah. Didirikan pada tahun 1755 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, cikal bakal Kota Yogyakarta adalah kraton dan alun-alun yang dilingkari benteng dengan mengambil tempat di hutan Pabringan. Lambat laun berkembang menjadi Jogdja seperti sekarang ini.
Perkembangan kota Yogyakarta telah mengubah iklim mikro dalam kota. Peningkatan jumlah penduduk menyebabkan banyak sekali lahan terbuka hijau yang diubah menjadi kawasan permukiman, industri, dan jasa. Perubahan penggunaan lahan tersebut mengakibatkan peningkatan suhu udara kota Yogyakarta. Bahan bangunan seperti aspal, semen, dan beton menjadi penyerap dan penyimpan panas matahari. Kenaikan suhu udara juga diakibatkan oleh kegiatan industri, transportasi, dan rumah tangga yang menggunakan bahan bakar minyak.
Kota Yogyakarta yang padat dan terbuka sudah tentu mempunyai suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah pinggiran. Perbedaan distribusi suhu ini sering disebut dengan istilah pulau bahang (heat island). Akibat dari timbulnya pulau bahang adalah terjadinya pemanasan setempat.
Kenyamanan Fisiologis
Panas telah dianggap sebagai salah satu bentuk pencemar udara yang perlu mendapatkan perhatian yang serius. Panas dapat merugikan manusia, baik dari segi kesehatan fisik maupun mental. Intensitas suhu yang tinggi bukan saja mengganggu kesenangan manusia, melainkan juga dapat mengganggu kerja organ tubuh manusia. Sengatan panas dari suhu udara yang tinggi dapat menimbulkan: (1) kelainan kulit yang timbul karena gangguan fungsi kelenjar keringat (miliaria), (2) sengatan panas (heat stress) dengan ge-jala kelelahan dan muntah-muntah, (3) gejala kejang-kejang pada otot tubuh dan perut sakit (heat cramps) akibat banyaknya keringat yang keluar sehingga tubuh banyak kehilangan garam natrium, (4) pada kondisi tertentu sampai pingsan (heat exhaustion), dan (5) kejang-kejang (heat stroke) karena suhu yang terlalu tinggi.
Tubuh manusia harus tetap terjaga pada suhu 37oC. Keseimbangan tubuh diatur oleh thermoregulator melalui peningkatan atau penurunan sirkulasi darah dan pembukaan atau penutupan kelenjar keringat. Jika total jumlah panas yang dilepas dan tambahan panas yang diterima oleh tubuh melampaui keseimbangan, maka thermoregulator akan bereaksi, yang ditandai dengan keluarnya keringat.
Kondisi udara kota yang panas dan lembab menyebabkan keringat tidak dapat berevaporasi, kulit tubuh tetap basah, dan panas tubuh meningkat. Kondisi seperti ini dirasakan sebagai bentuk ketidaknyamanan (discomfort). Tanda-tanda ketidaknyamanan terjadi secara bertahap, antara lain: tubuh akan merasa gerah karena kulit basah oleh keringat, terjadi stress, tubuh lesu, penurunan gairah kerja, dan timbulnya perasaan jengkel.
Ketidaknyamanan fisiologis yang dirasakan setiap orang sangatlah kualitatif dan relatif. Untuk menyederhanakan dan memudahkan pengukuran secara kuantitatif, The US National Weather Service telah membuat kriteria indeks ketidaknyamanan (discomfort index) dengan pendekatan: IK=T-0,55(1-0,01KR) (T-50); dimana: IK=Indeks Ketidaknyamanan, T=suhu udara (ISBB) dalam oF, KR=kelembaban relatif dalam persen. Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) diukur dengan rumus: ISBB=0,7sba+0,2sb+0,1sk; dimana: sba=suhu basah alami, sb=suhu bola, dan sk=suhu kering. Rumus tersebut dipakai sebagai alat pendekatan untuk mencari nilai indeks ketidaknyamanan. Kriteria skala indeks ketidaknyamanan menggunakan skala interval indeks ketidaknyamanan sebagai indikator dan persentase pernyataan dalam setiap kategori skala ketidaknyamanan sebagai indikasi. Skala IK menurut WHO (1969) adalah: IK<70 berarti 100% menyatakan nyaman, IK=70–80 berarti 50% menyatakan nyaman sedangkan 50%-nya lagi menyatakan tidak nyaman dan sangat tidak nyaman, IK>80 berarti 100% menyatakan tidak nyaman dan sangat tidak nyaman.
Untuk menguji pendekatan ini, dilakukan pengukuran ketidaknyamanan fisiologis melalui pengisian kuesioner yang berisi 30 pertanyaan indikator ketidaknyamanan fisiologis. Pernyataan ini merupakan penilaian diri terhadap: gejala kelelahan fisik, pelemahan fisik, dan motivasi (masing-masing 10 pertanyaan). Ketiga puluh pertanyaan tersebut, adalah (1) Apakah kondisi suhu udara seperti sekarang ini menimbulkan perasaan berat di kepala? (2) Menjadikan lelah di seluruh badan? (3) Membuat kaki terasa berat? (4) Menyebab-kan sering menguap? (5) Membuat pikiran jadi kacau? (6) Menyebabkan kantuk? (7) Menyebabkan merasa adanya beban pada mata? (8) Membuat kaku dan canggung dalam bergerak? (9)Menyebabkan tidak seimbang dalam berdiri? (10) Menyebabkan ingin berbaring saja? (11) Membuat sukar berpikir? (12) Menyebabkan lelah kalau berbicara? (13) Menimbulkan gugup? (14) Tidak dapat berkonsentrasi? (15) Tidak mempunyai perhatian terhadap sesuatu? (16) Cenderung untuk menjadi lupa? (17) Menjadi kurang percaya diri? (18) Menimbulkan rasa cemas terhadap sesuatu? (19) Membuat tidak dapat mengontrol sikap? (20) Tidak dapat tekun dalam bekerja? (21) Membuat sakit kepala? (22) Menimbulkan kekakuan di bahu? (23) Menimbulkan rasa nyeri di ping-gang? (24) Membuat pernapas-an tertekan? (25) Membuat haus? (26) Menyebabkan suara menjadi serak? (27) Menyebabkan pening kepala? (28) Menyebabkan kelopak mata tegang atau linu? (29) Menimbulkan gemetar pada anggota badan? (30) Merasa kurang sehat?
Setiap pernyataan diberikan nilai antara 1 sampai 4. Nilai ketidaknyamanan fisiologis diperoleh dari hasil penggabungan nilai ketiga puluh pernyataan tersebut dan dikategorikan dalam skala berikut: nyaman (nilai 30–60), tidak nyaman (61–90), dan sa- ngat tidak nyaman (91–120). (Silakan para pembaca untuk mencobanya.)
Solusi
Meningkatnya kebutuhan rumah tempat tinggal akan menimbulkan bertambahnya luas bidang-bidang permukaan buatan berupa daerah permukaan beserta segala fasilitasnya. Hal ini berarti akan meningkatkan suhu udara di daerah tersebut bila tidak diimbangi dengan penataan elemen-elemen alami yang dapat mereduksi radiasi matahari.
Ada dua alternatif yang bisa ditempuh untuk ameliorasi iklim mikro Kota Jogja, yaitu program jangka menengah dengan uji baku mutu emisi kendaraan bermotor secara berkala dan program jangka panjang dengan membangun ruang terbuka hijau. Tumbuhan memerlukan panas yang diambilkan dari lingkungan sekitarnya untuk melakukan proses evapotranspirasi. Sebatang pohon yang tumbuh menyendiri dapat menguapkan 400 liter airtanah. Jumlah tersebut setara dengan lima buah unit pendingin berkapasitas 2.500 kkal/jam selama 20 jam sehari. Ruang terbuka hijau diharapkan mampu mendinginkan dan memelihara kualitas udara kota.
Ruang terbuka hijau juga berfungsi sebagai public space. Ketika berkesempatan mengunjungi kota Cambridge-UK, penulis melihat anak-anak muda di sana lebih suka menghabiskan waktu luang bersama teman-temannya dengan duduk bersantai, membaca buku, atau bermain bola di taman. Sangat berbeda dengan di sini, yang anak mudanya lebih suka mejeng di mall. Sebagai penutup, ada sebuah kalimat bijak yang menyatakan bahwa kunci keberhasilan seseorang sangat dipengaruhi oleh kenyamanan rumah tinggal dan kebahagiaan keluarga.
Deteksi Tsunami dengan Deep-ocean Assessment and Reporting of Tsunami (DART) Oktober 18, 2004
Posted by juniawan priyono in Iptek.add a comment
Sistem penaksiran dan pelaporan tsunami di laut dalam (DART) merupakan bagian dari Program Mitigasi Bencana Tsunami Amerika Serikat. Sasarannya adalah mengurangi korban jiwa dan harta benda masyarakat pesisir, serta mengeliminasi kesalahan tanda bahaya (alarm) dan kerugian ekonomi yang tinggi akibat evakuasi yang tidak perlu.
Sistem DART terdiri dari sistem pencatat tekanan di bawah permukaan laut yang mampu mendeteksi tsunami lebih kecil dari 1 cm dan pelampung permukaan yang ditambatkan sebagai sistem komunikasi realtime. Telemetri akustik digunakan untuk mengirimkan data dari BPR di dasar laut ke pelampung di permukaan. Data tersebut kemudian dirileykan melalui satelit GOES yang terhubung dengan stasiun pengamatan yang memodulasi sinyal tersebut untuk penyebaran dengan segera ke Pusat Peringatan Tsunami-NOAA dan PMEL. Stasiun DART diletakkan pada wilayah dengan sejarah dimana tsunami menimbulkan kerusakan untuk memastikan deteksi dini dan untuk perolehan data pada saat kritis guna pendugaan secara realtime.
Tinjauan Sistem
Sistem pelampung tsunami yang bekerja secara realtime terdiri dari dua bagian, yaitu pencatat tekanan dasar (Bottom Pressure Recorder atau BPR) dan pelampung permukaan. Diantara keduanya terhubung secara elektronik. BPR memantau tekanan air dengan ketepatan mendekati 1 mm dengan rata-rata pencatatan setiap 15 detik. Data dikirim ke pelampung permukaan melalui modem akustik. Kemudian dipancarkan ke satelit GOES sebagai sistem pengumpul data. Pada kondisi normal (tidak ada tsunami), BPR mengirimkan data satu jam sekali yang terdiri dari empat nilai pengukuran selang 15 menitan. Data dikirim satu per satu selama 15 detik. BPR dapat membuat tiga kali trial untuk mendapatkan kepastian bahwa data sudah diterima oleh pelampung permukaan. Kemudian data diformat kembali dan dikirim melalui saluran satelit GOES dan ditampilkan di WAVEWATCHER untuk melihat gelombang pasang di laut lepas. Data ini memberikan petunjuk setiap jam akan keadaan dan kondisi di sekitar sistem DART. Jika data tidak dapat ditangkap dari dasar, pelampung permukaan memanfaatkan GPS untuk mendapatkan informasi posisi pelampung sebagai pesan otomatis.
Sebuah algoritma yang berlaku di dalam BPR menghasilkan nilai ketinggian air dan kemudian membandingkan seluruh sampel baru dengan nilai prediksi. Penjelasan lengkap algoritma ini bisa didapatkan di PMEL-NOAA. Jika dua nilai ketinggian air selang 15 detikan melebihi nilai prediksi, maka sistem akan mengarah ke Mode Tanggapan Tsunami. Data akan ditransmisikan melalui saluran random (132) selama minimal 3 jam, disajikan dalam frekuensi tinggi dengan interval pendek 100% pengulangan data untuk redundansi satu jam pertama.
Setiap pesan mode tanggapan tsunami sudah termasuk identitas (ID) yang menunjukkan tipe data dan saat perekaman setelah T=0. Saat waktu transmisi otomatis per jam tercapai selama mode tanggapan tsunami, BPR akan mengirim data satu menitan, yang terdiri dari rerata keempat nilai 15 detikan selama dua jam (meliputi 120 nilai rekaman) yang terdahulu. Jika laut masih bergolak setelah 3 jam dari mode tanggapan tsunami, transmisi otomatis akan terus berlanjut. Sistem akan kembali ke mode normal setelah 3 jam dari kondisi dimana ketinggian air tak terusik terjadi.

