Cerita Dibalik Kuis Who Wants to be a Millionair Januari 28, 2003
Posted by juniawan priyono in Hiburan.add a comment
Ini hampir tepat empat tahun sejak saya terakhir kali dapat berjalan-jalan kemana pun di Inggris tanpa seorang pun dan dimana pun membuka jendela mobil dan berteriak ‘allo, Chrissy – wanna Phone A Friend?’ Hal ini tidak menjadi masalah, tapi sejujurnya, setiap kali saya mencoba menganggap bahwa ini tidak pernah ada, nyatanya pernah mendengar ini dalam hidup saya. Saya melihatnya sebagai suatu cara publik untuk mengatakan bahwa mereka sungguh menyukai apa yang kulakukan. Demikian pengakuan Christ Tarrant dalam autobiografinya yang berjudul ‘Millionaire Moment.’
Chris Tarrant memang tidak salah. Ungkapan-ungkapan yang ada dalam Who Wants To Be A Millionaire? (WWTBAM) telah meresap ke dalam kesadaran umum, tidak saja di Inggris, tetapi ke seluruh dunia. Bahkan ‘Phone-A-Friend’ menjadi rujukan di Majelis Tingkat Rendah. ‘Ask the Audience’ dan ‘I’ll go 50:50’ digunakan di Senat Amerika. Di Jepang, orang-orang sering mengucapkan, ‘Is that your final answer?’ dan ‘Do you want to Phone-A-Friend’ dengan aksen yang keras dan cepat.
Adalah David Briggs, seorang produser di Radio Capital yang merencanakan cikal bakal acara bersama Chris Tarrant. Sebagai tambahan, Chris juga menjadi pemandu acara ‘Breakfast Show’ di Radio Capital FM, London sejak bulan April 1987. David mengamati bahwa di setiap acara kuis di radio, para pendengar selalu berteriak memaki penelpon yang berusaha menjawab pertanyaan. Mereka tidak dapat mempercayai dari penelpon ke penelpon lain dapat sebegitu bodohnya untuk tidak mengetahui jawaban dari setiap pertanyaan yang diajukan. David secara genius mengadopsi konsep ini ke media televisi. WWTBAM memasukkan unsur pokok ‘meneriaki dan memaki’ dan ternyata inilah kunci suksesnya.
Awal musim semi tahun 1998, ITV tertarik untuk mewujudkan proyek ini bekerjasama dengan Celador. Semula bernama ‘Cash Mountain’ sampai akhirnya menjadi ‘Who Wants To Be A Millionaire?’ Formatnya mirip acara Double or Quits di radio Capital FM dan Seaside Special di tahun 1976. Perubahan mendasar dilakukan berkaitan dengan tata lampu di studio dan musik pengiring. Penggarapan musik dipercayakan kepada komposer Keith Strachan dan anaknya Matthew. Chris dan David menginginkan musik drama dengan sentuhan orkestral seperti halnya soundtrack film ET dan Jaws. Lighting dipercayakan kepada Brian Pearce yang mengadopsi panggung tour dunia kelompok musik Genesis. Hebatnya, penggarapan musik dan tata lampu hanya dilakukan dalam waktu 21 hari. Hasilnya seperti yang sering kita lihat dan dengar di salah satu stasiun televisi swasta yang menayangkan acara ini dengan pemandu Tantowi Yahya.
WWTBAM menjadi hiburan keluarga. Ajang bagi ayah untuk memperlihatkan kemampuan. Ibu menjerit ketakutan akan ketidaksetujuannya. Anak-anak mengagumi bagaimana pintarnya orangtua mereka atau tidak, dan di beberapa kesempatan anak-anak merasa lebih pintar dari orangtua mereka. Selain itu, formatnya pun sempurna untuk acara kuis yang mengasyikkan. Lima belas pertanyaan bernilai sejumlah uang yang bertambah seiring tingkat kesulitannya. Pilihan empat jawaban yang memungkinkan. Tiga bantuan yang setiap saat dipersilakan untuk digunakan. Pilihan untuk berhenti bermain dan menerima uang jika kontestan terjepit. Kesempatan untuk memenangkan satu juta pound jika kontestan mampu menjawab kelima belas pertanyaan. WWTBAM benar-benar menjadi acara permainan yang sangat menarik. Billy Cotton Jr., Head of Light Entertainment di BBC sampai mengatakan bahwa hanya ada dua acara TV yang paling sempurna sepanjang hidupnya, yaitu This Is Your Live dan Who Wants To Be A Millionaire?.
Fenomena
Ketika mengambil gambar proyek yang menegangkan ini untuk yang pertama kalinya pada tanggal 12 Agustus 1998, atau tiga minggu sebelum disiarkan, tidak satupun dari tim pendukung yang menyadari telah menelorkan acara kuis yang bakal menjadi sebuah fenomena dan rujukan internasional. Sejak pertama kali disiarkan ITV sampai dengan 9 April 2002, tercatat telah diudarakan 276 program di Inggris, 687 orang sudah duduk di kursi panas yang menjadi legenda, dan telah dimenangkan hadiah total £ 30.931.000. Sebanyak 37.973.366 kali sambungan telpon telah dilakukan dalam rangka rekrutmen calon kontestan. Rating tertinggi dicapai pada bulan Maret 1999, ketika 19,2 juta orang menonton acara ini.
WWTBAM telah memenangi penghargaan TV Award di Inggris secara hatrik, dinobatkan sebagai acara komedi terbaik oleh BAFTA, dan mendapatkan berbagai penghargaan internasional lainnya. Hanya dalam waktu dua minggu sejak di-release sebagai game di komputer, WWTBAM telah mengalahkan popularitas Playstation, PC, dan Dreamcast; dan nangkring di tangga teratas selama 18 minggu. Penjualannya pun di atas 1 juta copy melebihi Tomb Raider dan Tomb Raider II.
Kesuksesannya pun terus berlanjut. Buku seputar kuis yang diterbitkan oleh Boxtree terjual lebih dari 1 juta copy. Game versi online melalui ITV Online (www.itv.com/ millionaire) dikunjungi sekitar 1,1 juta netter sejak diluncurkan bulan April 2001. Jika dirata-rata tercatat 4.000 pendaftar baru setiap hari, dimana mereka secara keseluruhan telah memainkan game lebih dari 22 juta kali. Di sembilan negara lain, game Millionaire di internet dimainkan secara overload tiga perempat juta kali per bulan. Mobile Millionaire menjadi game di telpon genggam yang paling populer di dunia, mampu melayani lebih dari 300 juta pengakses. Dengan prestasi ini memenangkan Best Consumer Wireless Application or Service Award pada acara GSM World Congress atau piala Oscar-nya dunia wireless.
Drama kehidupan dari acara ini telah menjadi magnet bagi pemirsanya, tidak hanya di Inggris namun juga ke seluruh dunia. Format acara ini sekarang telah dilisensi di lebih dari 100 negara, misalnya: Kazakhstan, Rusia, India, Kolombia, Filipina, Jerman, Afrika Selatan, Venezuela, Israel, Cina, Kenya, dan Australia. Juga ke Jepang yang terpisah secara geografis dan beda budaya. Acara ini menjadi acara permainan dari barat pertama kali yang pernah dibeli oleh stasiun televisi setempat, yaitu Fuji.
Pengalaman di Inggris
Siaran langsung pertama kali dilakukan pada tanggal 4 September 1998 jam 19.30. Sebagai pertanyaan tahap Fastest Finger First adalah Apakah unit terkecil dari memori komputer? Jawaban yang benar adalah Bit. Sebagai peserta tercepat adalah Graham Elwell. Dia akhirnya pulang dengan membawa cek senilai 64 ribu pound.
Tercatat lima orang telah mencoba menjawab pertanyaan senilai 1 juta pound, dimana akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti dan memilih hadiah uang £ 500.000. Pertama adalah Peter Lee, seorang perwira AL dari Cardigan, Wales. Dengan uang itu, Peter mewujudkan impiannya untuk mengundang cucunya yang tinggal di Amerika berkunjung ke Inggris untuk mengikuti kamp latihan sepakbola. Kedua adalah John Randall, seorang kontributor majalah Racing Sport. Ketiga adalah Mike Pomfrey yang gagal untuk menjawab pertanyaan: Tomas Masaryk adalah nama presiden pertama negara mana? Jawaban yang benar adalah Cekoslowakia. Dua kontestan lainnya yaitu Peter Spyrides dan Roger Walker.
Setelah lama menunggu akhirnya Judith Keppel, seorang desainer taman dari Fulham, memenangkan hadiah £ 1.000.000 pada tanggal 20 November 2000. Pada pertanyaan bernilai £ 16.000 dia meminta bantuan penonton di studio untuk menjawab Skotlandia sebagai negara tempat PM Tony Blair dilahirkan. Pada kesempatan berikut, dia menggunakan fasilitas fifty fifty untuk menjawab Belgia untuk pertanyaan: Di negara manakah terletak kota Duffel Coats? Pada pertanyaan ke-12, dia diminta untuk menyempurnakan sebuah kalimat dari Shakespeare berikut: The Winter’s Tale: “Exit pursued by a ____.” Dia menggunakan fasilitas phone a friend dimana Jill, temannya yang penggemar sastra klasik, menyarankannya untuk memilih jawaban Bear. Sampai pada pertanyaan ke-15: Siapakah raja yang menikah dengan Eleanor of Aquitaine? Tanpa ragu-ragu dia memilih Henry II. Judith yang mengaku sebagai sepupu jauh Camilla Parker Bowles membeli sebuah mobil baru dan menata ulang rumahnya. Dia juga menyisihkan uangnya untuk membantu penyelamatan harimau India.
Dua kontestan lain yang menjadi jutawan baru adalah David Edwards, seorang guru dari Staffordshire, pada tanggal 21 April 2001 dan Robert Brydges, mantan bankir yang menjadi penulis buku anak-anak, yang menjadi pemenang pada tanggal 29 September 2001. Dengan hadiah tersebut, David membeli rumah besar, mengganti mobilnya dengan model terbaru, mengunjungi pamannya ke Australia, berlibur ke Karibia selama beberapa bulan, dan berencana membeli rumah kedua di Prancis. Sedangkan Robert Brydges bisa bekerja dengan tenang menyelesaikan bukunya karena tidak khawatir akan biaya hidup keluarganya.
Carol Vorderman adalah selebriti pertama yang ikutan dalam rangka kegiatan amal (play for charity). Dia berhasil menyumbangkan 125 ribu pound. Andy Gray dan Richard Keys yang kita kenal sebagai komentator sepak bola liga Inggris di Sky Sport meninggalkan kursi panas dengan menyumbangkan uang 64 ribu pound.
Ada satu kontestan yang tak terlupakan dan kontroversial. Orang yang lebih dikenal dengan nama Major ini memenangkan 1 juta pound pada suatu malam di bulan September 2001. Setelah tim produser melihat rekaman secara teliti, mereka menyatakan bahwa kontestan tersebut melakukan penipuan selama duduk di kursi panas. Cek senilai 1 juta pound dengan segera ditutup oleh Celador dan penahanan segera dilakukan. Tentu saja, acara tersebut tidak pernah disiarkan.
Kisah dari seluruh dunia
Di India, acara diproduksi di Bollywood. Sebagai presenter adalah Amitabh Bacchan. Banyak diantara para kontestan yang lebih tertarik untuk mendapatkan kesempatan bertemu dengannya ketimbang memenangkan hadiah uang. Jurang pemisah antara si kaya dan si miskin sangatlah lebar. Mereka bermain untuk hadiah senilai 1 juta rupee, yang hanya setara dengan 100 ribu pound. Nampaknya bukan hadiah besar, tetapi dengan uang tersebut kontestan dapat membeli separuh Kalkuta. Banyak orang yang tinggal di daerah kumuh, tanpa listrik, apalagi memiliki pesawat TV sendiri. Ratusan hingga ribuan orang menonton siaran TV di pantai menjadi sesuatu yang umum. Sulit mencari taksi di jalanan ketika siaran berlangsung. Setiap orang menghentikan aktivitasnya dan menghilang masuk ke rumahnya masing-masing atau pergi ke pantai untuk menontonnya. Dua acara televisi yang selama ini bersaing yaitu film dan kriket, tergeser sejak acara ini disiarkan.
Di Hongkong, perusahaan televisi yang membeli hak siar menginginkan acara dipandu dua orang, satu orang yang membacakan naskah pertanyaan di bawah lampu sorot, dan satunya lagi duduk bersama penonton. Hal tersebut ternyata membingungkan dan mengacaukan, sehingga kembali hanya menggunakan satu orang presenter. Ketika akan disiarkan stasiun TV di Beijing, terlebih dahulu harus melalui proses sensor pemerintah setempat. Tiga hari sebelum penayangan, pemerintah Cina memutuskan untuk memotong hadiah utama menjadi separonya.
Di Venezuela, presenter dirangkap oleh presiden stasiun televisi tersebut. Sementara di Chili acara dibawakan oleh Don Fransisco, seorang bintang televisi terkenal di Amerika Selatan. Setiap penayangan acara, dia harus terbang dari tempat tinggalnya di Miami ke Santiago dengan pesawat jet pribadi. Dia rela melakukan itu semua karena itulah yang diinginkan pemirsa darinya.
Para kontestan di Kolombia harus berhati-hati bila muncul di kursi panas. Dalam situasi yang mudah bergolak dan negara yang tidak aman, mereka ngeri jika diketahui umum memiliki banyak uang. Kesempatan keluar dari studio dalam keadaan selamat semakin kecil. Bagi yang berani atau cukup gila, muncul di acara ini sudah siap mengganti namanya untuk menutupi jati diri dari kemungkinan pembunuhan atau penculikan disebabkan karena kemenangannya.
Kontestan di Arab Saudi seringkali meninggalkan kursi panas dengan satu, dua, atau bahkan tiga kesempatan bantuan. Memperlihatkan ketidaktahuan akan membekaskan rasa malu bagi sebagian orang Arab. Tradisi tertentu juga menabukan orang untuk bertanya kepada orang lain. Kontestan seperti ini lebih suka keluar tanpa mendapatkan hadiah uang daripada dikenai hinaan publik karena bertanya kepada penonton atau menelpon teman. Kaum wanita juga dilarang muncul di acara tersebut.
Di Turki, uang sebanyak 1 juta lira tidak lebih berharga dibandingkan dengan tembakau, sehingga acara ini diubah namanya menjadi Who Wants To Be A Billionaire? Acapkali orang yang diundang menjadi kontestan mendatangi ‘orang pintar’ setempat untuk menanyakan seberapa banyak hadiah uang yang akan mereka menangkan. Namun sifat alami manusia, jika dikatakan mereka tidak akan mendapatkan uang banyak, mereka cenderung mengabaikan ramalan tersebut dan terus melaju sampai kesempatan berakhir.
Di Eslandia yang berpenduduk 250 ribu jiwa, produser memutuskan untuk mengurangi jumlah kompetitor dari 10 menjadi 6. Ditakutkan hanya dalam beberapa tahun mereka akan kehabisan peserta. Salah satu kontestan terfavorit di sana adalah seorang pendeta dari sebuah desa kecil. Dia menjanjikan kepada para jemaatnya sebuah gereja baru jika memenangkan hadiah 1 juta krone. Akhirnya janji tersebut terpenuhi. Ketika di Israel acara ini menemukan pemenang 1 juta pound-nya yang pertama, pemandu acara menari berputar-putar di tengah arena sebagai tanda penghormatan.
Di Bulgaria, studio televisi terdekat melewati perbatasan Rumania. Setiap minggunya, sebuah iring-iringan bus meninggalkan Sofia menuju Bukharest untuk shooting acara. Setiap bus dihiasi dengan logo acara ini. Rombongan tersebut dikenal dengan nama ‘Millionaire Caravans.’ Di Jerman, seorang kontestan menyatakan akan menceraikan suaminya jika dia bisa menjawab kelima belas pertanyaan dengan benar. Meski terpaksa harus menyerah sebelum pertanyaan kelima belas, dia tetap bertekad untuk menceraikan suaminya.
Pengalaman menarik juga datang dari Georgia. Negara ini mengalami kekurangan energi listrik, kadang-kadang terputus dalam interval lima menitan. Diperlukan waktu seharian untuk merekam satu episode. Satu dari sekian banyak pemenang di seluruh dunia yang patut mendapatkannya berasal dari negara ini. Orang ini lumpuh dengan kondisi paru-paru yang mengancam hidupnya. Dia harus tinggal di ruangan yang diatur suhu udaranya 24 jam, sehingga sudah enam tahun tidak pernah meninggalkan rumah. Untuk itu suhu ruangan di studio terus dimonitor oleh dokter yang selama ini merawatnya. Sebuah alat khusus dibuat agar dia bisa menyelesaikan tahap siapa yang paling cepat dan tepat. Pria ini dengan luar biasa berhasil memenangkannya. Di kursi panas, dia sukes mendapatkan hadiah uang yang nilainya setara dengan 125 ribu pound. Hadiah tersebut mengubah kehidupannya. Setelah sekian lama tidak pernah keluar dari rumah dan membuatnya kesepian tanpa teman, dia sekarang berhubungan dengan banyak orang di seluruh dunia via email dan internet. Dia juga menjadi selebriti yang sering diundang untuk membuka pameran seni. Karena alasan kesehatan, pihak panitia memperkenankan untuk merekam ‘opening speech’ di rumah.
Kontestan di AS yang paling menarik adalah Brian Fodera, yang tidak mendapatkan hadiah sepeser pun, sehingga menjadi perbincangan publik. Kemudian John Carpenter, seorang pemeriksa pajak dari Conecticut, yang pada tahun 1999 membuat lelucon mendebarkan. Pada kesempatan untuk memenangkan hadiah 1 juta dollar: Yang manakah diantara presiden AS berikut yang pernah nongol di serial TV Laugh-In? Dia mengatakan kepada Regis, pemandu kuis, untuk memanfaatkan fasilitas phone a friend untuk menelpon ayahnya. “Pak, Aku sedang menggunakan fasilitas phone a friend dengan mu, tetapi sesungguhnya aku tidak membutuhkan bantuanmu. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku akan memenangkan 1 juta dollar.” Setelah itu dia menjawab dengan pasti: Richard Nixon.
Bagaimana dengan Indonesia? Setidaknya acara ini telah menambah wawasan pemirsa, menstimulasi orang untuk banyak membaca, dan sedikit melupakan beban hidup dengan berteriak ‘memaki’ peserta yang tidak mampu menjawab. Kita tunggu saja siapa yang bakal memenangkan hadiah 1 milyar rupiah. Dan semoga kejadian di Kolombia tidak terjadi di sini. Apakah Anda setuju?